Diskusi Atdikbudristek dengan Mahasiswa KSU

Atdikbudriyadh, Riyadh – Bertempat di ruang pertemuan KBRI Riyadh, Atase Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Atdikbudristek) menyelenggarakan diskusi bersama PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) Riyadh yang diwakili oleh 10 mahasiswa dan 1 dosen di King Saud University, dengan tema “Hubungan Pendidikan Tinggi antara Indonesia dan Arab Saudi: Penguatan Diplomasi Pendidikan di King Saud University”, Selasa (31/11).

Diskusi di awali dengan pengantar oleh Atdikbudristek, Badrus Sholeh yang menyampaikan sekilas informasi seputar pendidikan tinggi di Arab Saudi dan bagaimana seharusnya mahasiswa Indonesia berperan sebagai diplomat di bidang pendidikan di Arab Saudi.

“Jumlah mahasiswa Indonesia di Arab Saudi sekitar 2000an, dan di KSU sekitar 60an, dengan berbagai program studi yang ditekuni, tidak hanya pada ilmu agama saja tetapi juga ilmu sains dan teknologi. Dan kami melihat adanya peluang untuk dilakukan peningkatan dan penguatan pendidikan tinggi sebagai soft power Indonesia di Arab Saudi”, terang Badrus Sholeh.

“Atdikbudristek KBRI Riyadh memiliki misi untuk meningkatkan jumlah mahasiswa Indonesia di Arab Saudi menjadi 10.000 orang, dengan pemilihan program studi yang seimbang, 50% ilmu agama dan 50% ilmu umum. Dan untuk mewujudkan hal tersebut, kami sudah melakukan komunikasi dengan berbagai perguruan tinggi di Arab Saudi maupun di Indonesia,” Lanjutnya.

Badrus Sholeh juga menyampaikan agenda yang saat ini sedang dilakukan oleh Atdikbudristek, yaitu mengunjungi universitas-universitas di Arab Saudi. King Fahd University of Petroleum and Minerals (KFUPM) dan Majmaah University menjadi dua kampus pertama, dan King Saud University (KSU), Islamic University of Madinah (IUM), Taibah University menjadi target kampus selanjutnya.

Dalam diskusi ini, Atdikbud meminta masukan dari mahasiswa dan dosen Indonesia di KSU agar bisa meneruskannya ke rektor-rektor universitas di Arab Saudi.

Hadir dalam diskusi ini, Sarwono, yang sudah berada di Arab Saudi sejak 2007, melanjutkan studi S3 hingga menjadi dosen Teknik Kimia di KSU. “Dulu kami, 20 mahasiswa sekaligus peneliti Indonesia mendapatkan undangan dari KSU.  Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas universitas di bidang penelitian. Namun sekarang jumlahnya semakin berkurang. Mahasiswa Indonesia pun mendaftar secara mandiri agar bisa berkuliah di KSU”, imbuhnya.

Beberapa mahasiswa menyampaikan permasalahan serta pengalamannya dalam mendapatkan beasiswa kuliah di KSU.

“Sebenarnya sangat banyak peminat kuliah di KSU, namun kebanyakan terkendala oleh ketidakpastian kapan turunnya LoA dan calling visa dari kampus. Sehingga membuat mereka lebih memilih melanjutkan kuliah di negara-negara Eropa yang lebih cepat proses penerimaannya”, jelas Latif, mahasiswa S2 Teknik Mekanik.

“Sekarang beberapa universitas sudah membuka program berbayar. Dan kami melihat adanya peluang bagi calon mahasiswa kita yang tidak dapat kuliah di sini dengan program beasiswa kerajaan, dan mengambil program berbayar ini. Tentunya akan lebih baik jika didukung dengan program LPDP dari pemerintah kita”, terang Heri, mahasiswa S2 Bahasa Arab.

“Mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Arab Saudi mendaftar secara personal. Berbeda dengan negara-negara Timur Tengah lain seperti Mesir, Sudan, dan Maroko yang pemerintah kita menjalin kerja sama dengan mereka. Jika kita juga bisa seperti itu, G to G, tentu akan memperbesar peluang banyak diterimanya mahasiswa kita untuk berkuliah di sini”, tambah Byan, mahasiswa S2 Pendidikan.

Badrus Sholeh merespon baik masukan yang disampaikan untuk dijadikan rekomendasi yang tidak hanya untuk Atdikbudristek sendiri, tetapi juga pemerintah di Indonesia dan Arab Saudi.

Diskusi yang berlangsung selama dua jam itu di akhiri dengan makan siang bersama dan sholat Dzuhur berjamaah.



(MRS)

Silakan bagikan ke:

Leave a Reply