Kunjungan Atdikbud ke King Saud University

Atdikbudriyadh, Riyadh – King Saud University (KSU), menjadi pilihan pertama dalam kunjungan universitas yang dilakukan oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Riyadh, Arab Saudi, Badrus Sholeh, pada Ahad (10/10).

Kedatangan Badrus Sholeh beserta staf disambut oleh perwakilan mahasiswa Indonesia di King Saud University. Hadir 8 orang mewakili 50 mahasiswa dan 3 mahasiswi Indonesia yang sedang menempuh pendidikan dari berbagai jenjang dan jurusan di kampus tersebut. Pertemuan diawali dengan perkenalan Badrus Sholeh yang baru sebulan menjabat sebagai Atdikbud KBRI Riyadh untuk periode 2021-2024 menggantikan Achmad Ubaedillah yang pada Agustus lalu telah menyelesaikan amanahnya. Dilanjutkan dengan bincang santai membahas keadaan dan perkulihan mahasiswa secara umum baik yang sudah berada di Arab Saudi maupun yang masih tertahan di Indonesia.

Sudah hampir 2 tahun sejak Pandemi Covid-19 melanda, mahasiswa Indonesia di Arab Saudi mengalami kesulitan untuk pulang ke Indonesia dan kembali ke Arab Saudi, termasuk di tahun ini. Sebagian mahasiswa yang pulang saat liburan akhir semester lalu belum dapat kembali ke Arab Saudi dikarenakan ditutupnya akses penerbangan dari Indonesia ke Arab Saudi. Hal tersebut membuat mereka tidak dapat menjalani perkuliahan di semester ini yang sudah mulai diberlakukan secara tatap muka, dan harus dicutikan oleh pihak kampus.

Badrus Sholeh ingin mengetahui lebih lanjut tentang hal ini dengan berbicara dan mendengar langsung dari para mahasiswa mengenai kendala yang mereka alami sebagai dasar kebijakan Atdikbud KBRI Riyadh berkomunikasi dengan Pemerintah Arab Saudi.

“Alhamdulillah saat ini sudah ada titik terang, beberapa mahasiswa sudah dapat kembali ke Arab Saudi, ada yang dengan transit di negara ketiga dan karantina mandiri di sana, ada juga yang tidak perlu transit, langsung dari Indonesia ke Arab Saudi. Tapi mayoritas harus transit dan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit”, terang Latif, mahasiswa S2 Teknik Mekanik.

“Kemarin sempat khawatir tidak dapat kembali ke Arab Saudi, karena dikatakan harus sudah vaksin 2 kali di Arab Saudi, dan saya baru 1 kali. Tapi alhamdulillah setelah 1 kali vaksin di Indonesia dan mengajukan ke Kementerian Kesehatan Arab Saudi melalui aplikasi Tawakalna, data saya bisa diperbarui dan dapat kembali ke sini”, lanjut Nahrir, mahasiswa S2 Ilmu Tanah.

Latif dan Nahrir pada bulan lalu berangkat dari Indonesia dan transit di Yordania selama 2 minggu sebelum akhirnya tiba di Arab Saudi.

“Saat ini yang menjadi kekhawatiran utama dari teman-teman mahasiswa yang masih di Indonesia adalah masa berlaku visa mereka yang akan habis. Diawal ada mahasiswa yang harus membayar perpanjangan visa, tapi belakangan alhamdulillah ada kebijakan Pemerintah Arab Saudi yang membantu perpanjangan visa secara gratis. Tapi itupun masih membuat khawatir, karena tidak semua kampus langsung sigap membantu perpanjangan visa itu”, tambah Ridho, mahasiswa S2 Administrasi Pendidikan.

Beberapa mahasiswa lain memberi masukan kepada Badrus Sholeh terkait proses penerimaan mahasiswa yang harus menunggu 2-3 tahun baru bisa berangkat ke Arab Saudi, penambahan jumlah mahasiswa, sampai harapan adanya kerja sama antara King Saud University dengan institusi yang ada di Indonesia.

Setelah berbincang dengan mahasiswa, Badrus Sholeh berkesempatan untuk bertemu dengan Kepala Bagian Beasiswa King Saud University, Abdul Rahman al-Amri. Pertemuan hangat yang berlangsung singkat itu digunakan Badrus Sholeh untuk menyampaikan kendala dan masukan dari mahasiswa agar King Saud University terus mendukung dan memfasilitasi para mahasiswa, khususnya mahasiswa Indonesia, termasuk dalam membantu kembalinya mahasiswa ke Arab Saudi.

 

(MRS)

Silakan bagikan ke:

Leave a Reply